Pengujung

free hit counter

Selasa, 28 Februari 2012

US Marine: di Sumatra 1832


Beberapa waktu berselang saya sempat membaca sebuah kajian ilmiah tentang Small Wars oleh US Marine Corps War Fighting Lab, Quantico, VA tentang Expeditionary Contingent satuan US Marine ke manca negara di awal abad ke sembilan belas.

Disebutkan juga beberapa daerah yang saat itu masih bagian dari kolonial beberapa negara eropa, termasuk ke China, semenanjung Korea dan Jepang. Lalu iseng iseng saya mencari keyword of region "Indonesia" tidak ada data. Lalu saya ganti menjadi "Sumatra atau Java" kemudian muncul beberapa catatan sejarah tentang small wars maupun foreign insurgencies yang dilakukan oleh Corps.

Pertama.Serangan US Marines atas kota Quallah Batoe (Kuala Batu) Feb 06-09 tahun 1831, karena kerajaan setempat dan para bajak laut Selat Malaka telah menyerang dan merusak kapal dagang USS "Friendship" dengan Captain kapal Charles M. Edicott dari Salem, Massachusetts yang sedang membeli dan memuat cargo berupa pepper (lada) ke kapal.


Negeri – Negeri Di Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah


Memahami asal-usul penduduk yang mendiami pantai Barat Daya Aceh, mulai dari ujung Manggeng hingga Ujong Raja sampai saat ini masih mengandalkan sumber lisan dan sumber tertulis yang sangat terbatas. Menurut tradisi lisan, penduduk yang pertama mendiami daerah tersebut adalah orang Batak yang mereka kaitkan dengan keberadaan nama topografi suatu tempat seperti Guha Batak di pedalaman Blangpidie. Koloni orang Batak itu dikalahkan oleh para pendatang baru yang berasal dari Sumatera Barat maupun dari daerah Aceh sendiri.Suku Minangkabau dari Sumatera Barat bermigrasi ke daerah itu yang diperkirakan terjadi pada bagian kedua abad ke-17, karena semenjak Belanda menduduki Sumatera Barat melalui Traktat Painan tahun 1663, orang Aceh yang sebelumnya mengontrol daerah tersebut dan orang Minangkabau yang tidak mau tunduk kepada Belanda merantau ke pantai Barat Aceh. Sebagian di antara mereka ada yang membangun koloni di Susoh dan sebagian lainnya di Meulaboh atau di tempat lain.


RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 2

Pagi itu di istana, permaisuri sedang bersedih, sudah memasuki hari kesembilan Raja belum juga kembali dari berburu, sedangkan ngidam Sang Permaisuri sudah tak terbendung lagi, Pagi itu, untuk menghibur kakak iparnya, Cut Sari sengaja memakai pakaian abangnya, yaitu pakaian kebesaran Raja Cut. Cut Sari melakonkan sikap Raja, untuk mengisi waktu agar kakak ipar merasa senang dan gembira.
Sekitar jam sembilan pagi Cut Sari sudah siap dengan pakaian kebesaran, seolah-olah dia seorang Pangeran yang sedang mencumbu isterinya yang berduka.
Demikianlah, pagi itu Cut Sari sedang berdialog, sebagai berikut :


RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 1

Zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan dari Kerajaan Lama Muda adalah lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha, karena Kerajaan Lama Tuha Hancur diterjang banjir pada pertengahan abad 18 (1740 M).
Kisah ini terjadi di Kerajaan Lama Muda, pada waktu itu, Kerajaan Lama Muda diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana, yang bernama Raja Cut Ampon Tuan, dengan panggilan sehari-hari hanya Raja Cut.
Raja Cut sudah punya permaisuri, kawin sekitar 2 tahun lalu dengan Puteri Anjung Bulan, yaitu anak dari Raja Kuala Batu.


Selasa, 20 September 2011

AH AIR TERJUNNYA PUN MENDESAH, BERLIBUR KE CEURACEU

Minggu pagi, tertanggal 11 september 2011, mendapat telpon dari seorang teman memiliki nama Zulfikar, SE. Dia mempertanyakan padaku tentang jadi atau tidaknya berlibur atau melancong ke Ceuraceu, padahal bumi masih lembab dipagi Minggu, masih terlihat sisa-sisa air hujan yang menguyur dari Sabtu pagi, walau ada berhenti sebentar, hujannya. Aku menjawab telpon langsung mengatakan bahwa jadi perginya, “ok, jika jadi maka akan aku bungkus tape dan ketupat untuk bekal kita bawa kesana”.


Minggu, 28 November 2010

Ceumeucah


Selasa, 02 November 2010

Pemkab belum Prioritaskan Pengembangan Pendidikan

Thu, Oct 28th 2010, 12:09

Pemkab belum Prioritaskan Pengembangan Pendidikan

Aceh Barat Daya
BLANGPIDIE - Masih banyaknya ditemukan ketimpangan serta persoalan rumit lainnya terhadap pendidikan di daerah, dinilai sebagai indikasi belum berpihaknya pemerintah terhadap pengembangan pendidikan, bahkan pemerintah dituding masih mengesampingkan pengembangan pendidikan dibandingkan dengan sektor lainnya.

“Dapat kita pastikan bahwa hingga saat ini pemerintah di daerah masih menjadikan pendidikan sebagai sektor yang belum dianggap prioritas dibandingkan dengan sektor lainnya, kondisi ini jelas semakin membuat pendidikan di daerah terus terpuruk,” sebut Ketua PGRI Aceh Barat Daya (Abdya), Drs Ramli Bahar, kepada wartawan Rabu (27/10).

Dijelaskan, terpuruknya pendidikan di daerah saat ini tidak terlepas dari ketidakseriusannya pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu serta pengembangan kapasitas pendidikan itu sendiri, bahkan yang lebih ironisnya pendidikan cenderung dijadikan sebagai komoditi politik kekuasaan sehingga semakin memperlemah sektor pendidikan itu sendiri.

“Ada upaya semacam menjadikan pendidikan sebagai komoditi politik, ini jelas sangat beresiko sekali, sehingga mutu pendidikan jelas akan semakin merosot karena dikelola oleh orang yang tidak memiliki kapasitas, contoh yang paling nyata bisa dilihat ketika rekrutmen personel guru dan juga kepala sekolah cenderung lebih karena faktor kedekatan dengan kekuasaan dan bukan kapasitas dan profesionalitas,” jelas Ramli Bahar.(tz)

Sumber ; http://www.serambinews.com/news/view/41738/pemkab-belum-prioritaskan-pengembangan-pendidikan


Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More