Pengujung

free hit counter

Selasa, 28 Februari 2012

RIWAYAT KERAJAAN DI TEPI BARAT BAGIAN 1

Zaman dahulu, sekitar tahun 1785 M, di pesisir Pantai Barat Aceh banyak terdapat Kerajaan kecil, persisnya lokasi kerajaan yang dikisahkan dalam cerita ini adalah di Kecamatan Kuala Batee berbatasan dengan Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, sebelum hancurnya kerajaan Kuala Batu, karena diserang oleh angkatan laut Amerika tahun 1832. Kerajaan Kuala Batee sebenarnya pecahan dari Kerajaan Lama Muda adalah lanjutan dari Kerajaan Lama Tuha, karena Kerajaan Lama Tuha Hancur diterjang banjir pada pertengahan abad 18 (1740 M).
Kisah ini terjadi di Kerajaan Lama Muda, pada waktu itu, Kerajaan Lama Muda diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana, yang bernama Raja Cut Ampon Tuan, dengan panggilan sehari-hari hanya Raja Cut.
Raja Cut sudah punya permaisuri, kawin sekitar 2 tahun lalu dengan Puteri Anjung Bulan, yaitu anak dari Raja Kuala Batu.

Pada suatu hari Raja Cut mengunjungi ibundanya yaitu Po Cut Aren. Po Cut Aren pernah menjadi Ratu mengendalikan Kerajaan Lama Muda, setelah Raja Tua, yaitu ayah dari Raja Cut mangkat 6 tahun lalu.
Raja Cut menemui ibunda Ratu, guna mohon izin untuk pergi berburu rusa ke hutan, karena Permaisuri ngidam daging rusa, dalam kehamilannya sudah 2 (dua) bulan.
Pada zaman itu, raja pergi berburu rusa diiringi oleh pawang rusa dan beberapa orang peserta lainnya, ikut juga beberapa orang Pengawal Raja, rencana tempat perburuan rusa tersebut ialah dibagian pegunungan, sekitar daerah Babahrot sekarang, di daerah tersebut banyak terdapat rusa-rusa yang gemuk, karena selain hutan lebat, juga banyak rumput-rumput muda, dan di pinggir sungai pada tebing tanah juga banyak di jumpai tanah mengandung yodium (tanah asin), sebagai makanan tambahan bagi rusa. Adapun tanah yang dimakan rusa tersebut namanya dalam bahasa Aceh ialah Tanoh Lot.
Setelah Raja Cut mengaturkan sembah sujud pada ibunda Ratu, Raja Cut menyampaikan hasratnya semoga ibunda berkenan untuk sementara berdiam di istana, untuk menemani permaisuri yang sedang hamil muda, mungkin sepeninggal Raja Cut pergi berburu banyak hal-hal yang terjadi pada Putri/Permaisuri, untuk itulah ibunda menemaninya agar ada yang membimbing di istana. Dengan persetujuan Ibunda Ratu, Raja Cut kembali pulang ke istana bersama-sama dengan Ibunda.
Setelah semua perbekalan/peralatan berburu dilengkapi, Raja Cut beserta pengiringnya berangkat menuju tempat perburuan rusa di hulu sungai sebagai mana yang telah biasa di lakukan, setiap 6 (enam) bulan sekali Raja ikut berburu ke hutan pada lokasi yang biasa dikunjungi rusa untuk memakan tanah lot.
Dengan menaiki perahu/Sampan dalam bahasa Aceh setempat namanya Jaloe, Jaloe ialah sampan/perahu yang di buat dari sebatang pohon kayu khusus, yang tidak mudah retak (pecah) setelah jadi perahu.
Rencana berburu Rusa tersebut paling lama hanya 1 minggu saja. Setelah keberangkatan Raja Cut dan rombongan pergi berburu, di istana kerajaan Lama Muda Permaisuri ditemani oleh adik Raja Cut, namanya Sri Kumala Sari dengan panggilan Cut Sari saja, rombongan Raja Cut sudah berlalu 2 hari mudik mengikuti aliran sungai ke hulu, namun demikian rombongan belum menemukan jejak rusa yang akan di buru, pada hari ketiga Raja Cut bertitah pada pawang rusa, “Hai pawang, bagaimana kalau kita berkemah di daratan saja, perbekalan kita simpan dalam kemah, yang kita bawa hanya peralatan jaring saja dan bahan makanan.”
Hari keempat belum juga menemukan jejak rusa, rombongan pemburu berpencar, di bagi atas tiga kelompok setiap kelompok terdiri enam orang, dan satu orang pawang rusa, kebetulan ada tiga orang pawang rusa yang ikut berburu. Kelompok Raja Cut jumlahnya sepuluh orang.
Sejak dari pagi sampai sore tiap kelompok belum menemukan jejak rusa, maka malam hari rombongan beserta raja bermufakat untuk mengambil kata sepakat besok hari, apakah pindah kemah ketempat lain.
Oleh karena sudah dua hari berkemah belum juga menemui jejak rusa, maka hasil musyawarah besok harus pindah kemah ketempat lain dengan menempuh jalan darat, rombongan Raja Cut naik perahu, dan rombongan lain jalan kaki menyusuri pinggiran sungai, mana tau ada rusa yang tersesat di temui dalam perjalanan, pada sore hari di hari keenam setelah berjalan lebih kurang 5 km ke hulu, rombongan Raja Cut mengarahkan perahu ke tepi pantai rupanya makin ke hulu sungai makin luas pantai sungai yang ditimbun batu kerikil, Raja Cut mengatakan pada pembantunya, “Kita berkemah saja di sini.” Setelah membongkar semua peralatan dari perahu ke pantai mereka mendirikan kemah ditempat yang tinggi di pinggir sungai untuk mudah memantau apa bila ada hal yang ganjil, dan untuk memantau rusa apabila ada yang datang.
Setelah rombongan Raja Cut selesai memasang tenda, maka sampai ke kemah tersebut kelompok lain, mereka kembali berkumpul dalam kemah masing-masing.
Pada malam hari ketujuh, waktu tidur, terdengar suara ribut-ribut seperti ada bunyi angin kencang meniup daun-daun pohon kayu, dan juga terdengar suara gemuruh di tanah, semua orang dalam kemah terbangun dari tidur, mereka semua keluar dari kemah ingin tahu apa yang terjadi, semakin lama semakin dekat ke kemah, dari kejauhan terlihat ada yang berlari kencang, rupanya kawanan rusa bergerombolan, rusa-rusa tersebut lari dikejar harimau. Keesokan hari para anggota pemburu, mengikuti arah jejak kawanan rusa semalam, setelah berapa jam mereka berjalan, rombongan pengintip/pencari jejak menemukan kawanan rusa tersebut, sebagian sedang mandi berendam dalam sungai dan sebagian lagi sedang memakan tanah lot, dipinggir tebing sungai, setelah menemukan kawanan rusa tersebut, pencari jejak kembali ke kemah, melaporkan bahwa kawanan rusa tersebut sudah ditemukan di sungai agak ke hulu. Semua anggota pemburu merasa girang, karena harapan untuk membawa pulang daging rusa sudah nampak dan terbayang akan hasilnya, Raja Cut segera bertitah, “Ayo kita atur strategi memasang jaring, mana yang lebih baik hasilnya cara tersebut yang kita ambil jalannya.”
Setelah memutuskan semua tata cara pemasangan jaring, maka semua personil pemburu tersebut mengangkat jaring untuk dipasang pada tempat yang sudah ditentukan.
Kebiasaan rusa, dimana jalan yang dilalui untuk datang, jalan itu pula dilaluinya untuk kembali.
Pawang rusa sudah mengatur strategi tempat-tempat berdiri personil yang mengarahkan rusa masuk perangkap jaring, sekitar jam 3 sore kawanan rusa sudah keluar dari sungai sebagian sudah naik kedaratan. Setelah semua keluar dari sungai pawang memberi aba-aba supaya memukul tabuh/gendrang agar rusa – rusa terkejut dan lari sesuai yang telah diarahkan.
Setelah genderang dipukul terlihat rusa mulai berlarian, dikiri kanan jalur lari rusa dibunyikan suara gaduh agar rusa terperangkap kearah jaring.
Setelah kawanan rusa berlarian suaranya seperti angin ribut, maka makin lama semakin hilang suara tersebut melewati batas jaring. Akhirnya, semua personil pemburu berlari kearah jaring untuk memeriksa apa ada rusa yang terjerat.
Setelah memeriksa, mereka mendapatkan tiga ekor rusa dewasa dan dua ekor anak rusa. Tiga ekor rusa dewasa tersebut langsung disembelih oleh pawang rusa dengan disertai jampi-jampinya, supaya terbebas dari pengaruh hantu buru (pengaruh orang halus), demikian kepercayaan pawang rusa.
Sedangkan anak rusa yang masih kecil tidak disembelih, rencana dari Raja Cut, akan dipelihara di istana. Setelah selesai menguliti rusa, hari pun Maghrib, semua mereka bermufakat apa akan pulang malam itu juga apa besok, karena tidak ada satupun yang menjawab, maka Raja Cut segera berkata, “Sebaiknya kita masak nasi dan makan malam, setelah itu baru kita kemasi semua barang, dan berangkat pulang malam ini juga. Sebagai mana biasa, pulang mengikuti aliran sungai kita tidak capek, karena perahu jalan sendiri, dan menurut cuaca hari ini tidak hujan. Bulan pun terang, mudah-mudahan waktu subuh besok kita sudah tiba dikampung.” Mendengar ucapan Raja tersebut semuanya setuju.
Sekitar jam 11 malam, setelah memuat semua peralatan kedalam perahu, termasuk daging rusa dan anak rusa yang 2 ekor tersebut, merekapun berhanyut-hanyut dengan perahu mengikuti arus aliran sungai.
Karena juru mudi menjaga keselamatan raja, perahu yang ditumpangi oleh raja tidak mau mengambil resiko berjalan cepat di air deras. Maka semuanya terlambat tiba di kerajaan, yaitu mereka merapat didermaga pinggir sungai jam 8.30 pagi hari kesembilan.[bersambung]


Posted: 1 Oktober 2007 in LinkUncategorized
Tag:
Sumber Tulisan ini  : http://desramedia.wordpress.com/2007/10/01/tamatnya-riwayat-kerajaan-di-tepi-barat-bagian-1/


0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More